Dalam sebulan terakhir, publik merasa dibohongi dengan berbagai spekulan kasus tewasnya Brigadir J di rumah Dinas Kadiv Propam nonaktif Irjen Ferdy Sambo.
Berjalannya waktu, seberapapun cepatnya kebohongan itu, kebenaran akan mengejarnya. Kebenaran pasti menemukan jalannya, seperti bayangan yang selalu menemukan pemiliknya saat sinar beranjak pergi.
Tepat pada momentum Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, tampil mengumumkan Sambo sebagai tersangka, kecewa berat dan keraguan publik dalam pengungkapan kasus Brigadir J akhirnya runtuh seketika. Publik merasa puas dan lunas ‘terbayarkan’ dengan ketegasan dan transparan Kapolri mematahkah semua alibi Sambo sebelumnya.
Tak main-main! Jenderal Bintang Dua itu langsung dijerat Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP, dengan ancaman hukuman pidana maksimal hukuman mati.
Sikap tegas Kapolri itu, membuat semua kalangan dari rakyat biasa, pakar, hingga Purnawirawan Polri tercengang sekaligus kagum.
Pasalnya, baru di era Jenderal Listyo Sigit, dan pertama kali dalam sejarah Korps Bhayangkara, seorang pejabat tinggi Polri dengan pangkat Jenderal Bintang Dua dijerat pasal yang ancaman hukumannya adalah mati.
Tiba-tiba Muncul Nama Fahmi Alamsyah
Di tengah pengungkapan kasus pembunuhan Brigadir J oleh timsus, nama seorang sipil bernama Fahmi Alamsyah tiba-tiba menjadi buah bibir publik. Namanya diberitakan media, karena diduga kuat ikut andil menskenariokan kasus pembunuhan di rumah dinas Sambo, menjadi insiden saling tembak antara Bharada E dan Brigadir J.
Fahmi langsung membantah kabar itu. Namun pria yang juga menjabat sebagai penasihat ahli Kapolri Bidang Komunikasi Publik itu, membenarkan bahwa Sambo sempat menghubunginya dan meminta bantuan menyusun draf press release ke media.
“Pertama, saya tidak hadir di TKP saat hari Jumat, 8 Juli 2022,” kata Fahmi.
Karena namanya terus terseret dan tak ingin memberatkan Kapolri. Fahmi akhirnya mengajukan pengunduran diri dari posisi Penasihat Ahli Kapolri Bidang Komunikasi Publik.
Pengunduran itu ia lakukan menjelang Sambo ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan Brigadir J.
Background Fahmi Alamsyah
Publik pun bertanya-tanya siapa Fahmi Alamsyah? Sesuai kabar yang beredar dihimpun penulis dari berbagai sumber, awal mula Fahmi Alamsyah menancapkan kuku di dunia media ketika berkenalan dengan wartawan senior Muchlis Hasyim Yahya alias MHJ di Media Indonesia.
MHJ yang konon katanya loyal dan suka bagi-bagi Dolar itu, secara bertahap menjelma sebagai sokoguru. Fahmi pun tak sia-siakan proses pembelajaran yang bisa meraup banyak cuan tersebut.
Semua ilmu dan taktik MHJ diserap dengan baik, lalu diparkirkan di otaknya. Waktu berjalan, Fahmi semakin disayang karena mampu menterjemahkan semua perintah dan hasrat politik MHJ.
Bahkan setelah cabut dari Media Indonesia, MHJ membangun portal berita Inilah.com dan Majalah Inilah REVIEW. Fahmi dipercayakan sebagai pengelolanya.
Bahkan konon katanya, lewat MHJ, Fahmi dapat mengenal sejumlah orang penting di republik ini termasuk di lingkaran Polri yang kemudian membuatnya bisa menjadi penasihat ahli Kapolri Bidang Komunikasi Publik.
Nama Fahmi memang santer di kalangan awak media. Ia disebut-sebut sebagai sosok yang ringan tangan alias suka bagi-bagi duit. Bahkan lewat kepiwaian dalam menggiring opini lewat media-media mebuat namanya semakin melambung tinggi.
Kabarnya lewat kelincahan Fahmi, Ia berandil besar memenangkan politikus PKS, Ahmad Heryawan menjadi Gubernur Jawa Barat.
Perang Dingin Fahmi-MHJ
Berjalannya waktu, kekompakan Fahmi dan MHJ perlahan mulai memudar. Saat Pilgub DKI 2017, Fahmi mendukung Djarot Syaful Hidayat yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sedangkan MHJ, Anies Baswedan Sandiaga Uno.
Puncaknya menjelang Pilpres 2019. Dimana sesuai garis politik MHJ antiterhadap rezim Jokowi, berbeda dengan Fahmi yang lebih lentur gaya berpolitiknya dan cenderung dekat dengan kelompok pro Jokowi.
Fahmi pun berusaha keras bagaimana bisa mendatangkan cuan untuk operasional Inilah.com dari pendukung Jokowi, namun niat itu ditolak MHJ.
Akibat perbedaan itu, munculah isu di tengah internal redaksi Inilah.com pecah kongsi MHJ-Fahmi.
Kondisi itu langsung berdampak signifikan bagi awak media Inilah.com. Bahkan kabarnya para wartawan Inilah.com sampai 2 tahun tak digaji. Ada yang tetap bertahan, adapula yang memilih cabut pindah ke media lain karena digantung begitu saja oleh MHJ.
Setelah 2 tahun vakum dan gaji wartawannya tak kunjung dibayar, rupanya nafsu politik MHJ masih bergelora. Ia lantas berupaya menghidupkan kembali Inilah.com dengan mencari sosok pengganti FHM.
Sesuai hitung-hitungan tahun politik 2024, MHJ sangat dekat dengan mantan Wapres Jusuf Kalla sekaligus Anies Baswedan yang disebut-sebut capres terkuat Pilpres 2024 mendatang.
Itu bukan isapan jempol semata, bisa tampak jika merujuk narasi pemberitaan Anies kerap diagung-agungkan seakan manusia setengah dewa dalam berita di Inilah.com.
Diam-diam MHJ yang ternyata dekat dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas). Mengamati seorang pemuda bernama Fahd Pahdepie. Fhad ini adalah staf Zulhas yang kerap membrending Ketum PAN itu lewat berbagai macam cara agar bisa dilirik Jokowi untuk bergabung ke lingkaran Istana Negara.
Fahd Pahdepie memang suka beretorika, seperti halnya Fahmi. Mungkin MHJ terkesima karena itu, akhirnya memutuskan Fahd Pahdepie sebagai CEO inilah.com reborn.

Menjelang diumumkan inilah.com reborn pada Agustus 2021 lalu, kabarnya Fahmi yang kala itu sudah menjadi staf ahli Kapolri sempat menemui MHJ di kantor Redaksi Inilah.com.
Geng Anyar MHJ Jemput Tahun Politik 2024
Desas desus yang beredar, MHJ telah bangkit lagi berpolitik lewat roda Inilah.com. Kawan-kawan lamanya pun mulai merapat. Seperti 2 wartawan handal bekas Tempo. Yakni, Setiyardi Budiono dan Darmawan Sepriyossa.
Kedua bestie MHJ itu pernah dipenjara terkait kasus Tabloid Obor Rakyat yang kala itu turut menyeret nama MHJ.
Tak hanya itu, Nanik S Deyang sekaligus
ahli skenario dan wartawan senior bekas garis keras Jokowi yang kemudian membelot menjadi Wakil Ketua Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kala Pilpres 2019 juga dirangkul MHJ menjelang Pilpres 2024.
Kabarnya Nanik kerap memberikan instruksi kepada awak media inilah.com untuk aktif menyerang pemerintahan Jokowi.
Tak hanya itu, sesuai kabar yang beredar, MHJ pun secara diam-diam mengakomodir kekuatan lewat Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), yang isinya ada para pemred sejumlah media. Bahkan mereka juga rutin melakukan rapat di kantor Inilah.com.

Saking seriusnya, Fahd Pahdepie CEO inilah.com didapuk menjadi Ketua JMSI DKI Jakarta dan baru dilantik Gubernur Anies Baswedan (Cs MHJ), pada Selasa (2/8/2022) lalu.
Padahal, latar belakang Fahd Pahdepie bukanlah seorang Jurnalis, namun hanyalah penulis buku dan staf ahli Zulhas.
Apakah ini yang dikatakan tugas politik yang menyedihkan adalah menegakkan keadilan di dunia yang penuh dosa?
Simbiosis Mutualisme Fahmi-MHJ di Tengah Prahara Sambo?
Kembali pada kasus pembunuhan Brigadir J. Sesuai jejak digital, portal Inilah.com merupakan media perdana yang memberitakan kasus tembak menembak di rumah dinas Ferdy Sambo.
Bahkan link pemberitaan media Inilah.com tersebar secara masif ke sejumlah grup-grup wartawan dan publik. Setelah ramai, baru media maenstrim lainnya ikut memberitakan.
Sementara itu, dari isi narasi pemberitaan di semua media, hampir mirip dengan yang diberitakan Inilah.com.
Tak hanya itu, sesuai hasil penelusuran tampak Inilah.com juga menjadi media pertama yang memberitakan Sambo dibawa ke Mako Brimob dan bakal diumumkan oleh Kapolri sebagai tersangka dalam kasus penembakan Brigadir J.
Setelah itu, baru media Tempo.co dll ikut memberitakan hal sama soal Sambo dibawa ke Mako Brimob.
Tak hanya itu, Fahmi juga menjadi staf ahli Kapolri pertama kali membuat statement di media Inilah.com pada Kamis, 14 Jul 2022 membela Sambo.
Narasinya Fahmi saat itu, menyebut Polri masih mempertimbangkan kondisi psikis istri Sambo yang menjadi korban pelecehan Brigadir J. Pelecehan ini berujung baku tembak menewaskan Brigadir J.
Nah, merujuk dari runutan di atas, apakah ini bagian dari upaya simbiosis mutualisme Fahmi-MHJ di tengah prahara Sambo terkait kasus pembunuhan Brigadir J ?………….







